Melinsum Kala Kemarau: Air Seperti Ngambek Di Sini

// // Leave a Comment
Air oh Air,

Kembali kita ke Melinsum. Dusun kecil di Taman Nasional Gunung Palung, Kalimantan Barat. Dan sekarang ini aku ingin bercerita tentang AIR. Ya, air oh air.

Benar bahwa air di sini banyak, hanya saja bukan air tawar nan segar namun ‘air asin’ yang telah menjadi momok yang kehadirannya sudah menjadi suatu kebosanan. Bukan karena momok ini sudah tak menakutkan, masih tentunya, hanya saja dia terlalu sering datang sehingga kekuatan dari kebiasaan adalah kebosanan. Orang-orang di Melinsum sudah menjadikan momok air asin ini sebagai tamu rutin yang menyebalkan. Terlebih ketika purnama datang, bukan serigala jadi-jadian atau vampir dan setan-setan lain yang datang, namun momok air asin inilah tamu tetapnya.

Kebun kelapa di sekitar Melinsum yang sudah tak mau lagi berbuah..
Photo by: Haruki, 2012

Air asin yang rutin mendatangi sawah-sawah, rumah-rumah-rumah, kebun-kebun dan selalu berhasil menghancurkan segalanya. Tidak seperti bandang yang tiba-tiba datang dan kemudian hilang, air asin datang pelan-pelan dan perlahan pula hilangnya.


img source: here
Bahkan efek dari air asin ini, entah dipercaya atau tidak, dan malah sempat membuatku tertawa geli sekaligus getir adalah pada ayam.


“Gak hanya sawah mbak, semuanya tidak bisa di sini kalo udah terkena air asin. Kelapa tak mau berbuah, karet jadi mati, bahkan “ayam” pun kalo udah kena air asin, dia gak mau bertelor. Percaya atau gak, tapi kenyataannya begitu mbak!”


Aku teringat Bang Hadi pernah mengatakan hal ini pada kami. Aku tertawa. Aku prihatin juga. Bahkan ayam pun mulai ngambek di sini. Bang Hadi adalah seseorang yang tinggal di Melinsum ini dan selama aku dan teman-temanku di sana, dia adalah salah satu teman kami yang paling kocak, blak-blakan, namun tulus.

Ya, air asin alias banjir pasang atau banjir rob adalah tamu rutin di Melinsum.

Bukan hanya air asin yang merajuk, ternyata air tawar-pun begitu juga.

Banjir juga kah?

Ternyata, bukan. Air tawar merajuk dengan cara menjauh bahkan menghilang. Dan ini juga sangat merepotkan dan menyusahkan. Yahhh,...

Air bersih, sumpah di sini sulit. Tidak hanya di Melinsum, tapi hampir di beberapa desa di Kecamatan Sukadana ini. Di Melinsum sendiri, untuk berkepentingan dengan air bersih, jarak terdekat adalah sekitar 3 kilometer. Air untuk mandi, mencuci, masak dan minum diambil dari lokasi itu yang cukup jauh. Ya, kecuali jika berkenan untuk mandi atau minum air asin J.

Memang saat itu, ketika tinggal di sana musim kemarau sedang memuncak. Sumber air yang biasanya dapat mengalir sampai di rumah-rumah paling hilir pun tidak jalan. Sepanjang yang aku lihat, banyak keran-keran air yang sudah kering dan berdebu karena kelamaan tidak terpakai.

Meskipun dekat dengan hutan yang sepertinya masih lebat, namun air bersih selalu menjadi barang langka ketika kemarau. Karena daerah ini adalah daerah pesisir maka lupakan untuk membuat sumur.  Satu-satunya sumber air ya berasal dari gunung (hutan) baik sungai atau pun mata air yang banyak dialirkan ke rumah-rumah melalui pipa-pipa atau selang. Kemarau tiba dan debit air menurun drastis. Pipa-pipa dan selang air jadi pengangguran sementara. Meski sungai utama tidak kering, namun air-air seakan tidak mampu lagi merambat melalui pipa dan selang-selang itu.

Aliran sungai utama yang masih mengalirkan air menjadi tempat favorit berkumpul orang-orang setiap pagi dan sore. Tentunya mandi, dll. Jika kami pergi dari Melinsum – Sukadana atau sebaliknya, sering sekali terlihat motor-motor parkir di tepi jalan tanpa ada penunggu. Para penunggunya ternyata sedang ritual di sungai. Ya, itulah motor-motor orang-orang yang sedang mandi.

Selain barisan motor orang-orang mandi, di sepanjang jalan juga selalu (bahkan katanya hampir 24 jam) terlihat beberapa mobil bak yang memuat tangki air ukuran jumbo. Ternyata mereka itu adalah penjual air, meski ada juga yang memakai untuk konsumsi pribadi. Tangki-tangki air itu dijual di sekitar Kota Sukadana yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Kayong Utara, baik nantinya air dijual satu tangki besar langsung ataupun diecer. Aku pun pernah melihat di Sukadana, beberapa orang antri membeli air dengan membawa jerigen. Harga 1 jerigen air itu katanya sih 5000 rupiah.

Ya, itulah air. Di Melinsum, air menjadi satu masalah yang rumit. Baik air asin maupun air tawar seakan sedang melakukan protes bersama. Entah kepada siapa mereka protes?

Ritual mandi dan mencuci setiap pagi di Melinsum meninggalkan banyak kisah lucu dalam memoriku. Selanjutnya... ...

0 comments:

Post a Comment