Showing posts with label Air. Show all posts
Showing posts with label Air. Show all posts

Ini sudah tahun ke-8 lho, Lomba Mulung Sampah Ciliwung se-Kota Bogor dilakukan. Apakah Ciliwung sudah jadi bersih? Ya, kita coba tengok saja Ciliwung kini. Rasa-rasanya kok ya tidak terlalu banyak berubah dibanding sebelumnya. Sampah masih ada saja nyangkut di bebatuan dan tebingnya, airnya pun masih butek coklat bahkan kadang bau kalau singgah di kota. Berapapun karung yang ada untuk mengangkut sampah dari badan Ciliwung pun kok ya masih saja kurang. Apa mungkin sampah-sampah di Ciliwung itu saking banyaknya jumlahnya tak terbatas? Sudah sering dibersihkan pun Ciliwung akan tetap kotor. Ehm, meski demikian, harapan kami para relawan pun seakan tak terbatas. Mimpi kami akan Ciliwung bersih seakan tak kan pernah padam. Buktinya? Ya, ini, kami bergabung di acara bebersih Ciliwung terbesar di Bogor tiap tahunnya.

Ya benar, ini tahun ke-8, artinya sudah 8 tahun Ciliwung dibersihkan secara massal di Kota Hujan ini. Berapa banyak sampah yang terangkat? Tahun 2016 ini saja, sampah yang diangkat ada 2162 karung sampah. Jika rata-rata per lomba ada 2000 karung, maka sudah belasan ribu karung sampah di Ciiwung dibersihkan! Terbersit pertanyaan, berapa karung sih sampah yang ada di Ciliwung? Jika bisa ada pendeteksi sampah yang masuk keluar dari Ciliwung layaknya suatu sistem, pasti lebih enak memantaunya. :) Gimana caranya ya? Ah, tapi bukan tentang ini aku ingin menulis di sini. Aku ingin menuliskan perasaanku sendiri, yang sedang belajar rela, belajar ikhlas, belajar mencintai dari hati kepada sungai-sungai yang memberiku berjuta inspirasi. 

Lalu, Ada Ada Dengan Ciliwung? 

Ya, waktu leaflet penggoda bergambar Ciliwung dengan nuansa warna-warni yang familiar bertuliskan 'ADA APA DENGAN CILIWUNG?",  aku sempat tersenyum. Iya, ini tentang AADC. Momennya pas banget. Ini tentu bukan tentang kisah Rangga Cinta, tapi kisah kami dan Ciliwung. Kenapa sih dengan Ciliwung? Pertanyaan ini ternyata berhasil menggoda ratusan orang yang kemudian 'rela' memberikan waktu, tenaga dan bahkan biayanya untuk ikut serta mencari tahu, 'Ada Apa Dengan Ciliwung?'. 


Dimulai dari Jumat malam, 27 Mei 2016,  lebih dari seratus orang berkumpul di Sempur Kaler 60, mempersiapkan secara cepat dan ringkas untuk puncak acara hari H - Lomba Mulung Sampah Ciliwung ke-8, atau kami buat hashtag nama kami dengan #LMSC8. Jauh sebelum itu pun beberapa dari kami sudah mempersiapkan salah satu hajatan Kota Bogor di usia barunya. Relawan berdatangan tak hanya dari Bogor, bahkan dari luar kota pun banyak yang hadir di sana. Semangat dan kerja keras menjadi satu hingga akhirnya acara berlangsung lancar di kemudian harinya. Aku masih ingat betul malam itu, mungkin ada sejumlah kawan yang terjaga sepanjang malam, akupun hanya sempat memejamkan mataku barang satu jam di pagi buta.

----

Riuhnya pagi itu benar-benar 'sesuatu'. Peserta yang datang telat, logistik kaos yang banyak belum jadi,  halaman wali kota yang masih berantakan, dan lain-lainnya. Kesibukan persiapan upacara pembukaan rasa-rasanya membuat tekanan darahku naik mendadak. Banyak longgar sana-sini tapi, tentunya kulewati semua bersama-sama dengan kawan-kawan. Kebetulan saja, aku membantu di bagian acara. Hehehe.  "Stop being a perfectionist in the last minute!", hahahaha aku kok jadi ingat kata seorang kawan satu ini.

Apapun itu kawan, hari itu sungguh menyenangkan. Tentu saja banyak yang kurang di sana-sini, tapi itu bisa jadi pelajaran. Yang menjadikanku lega dan senang adalah tawa dan senyum cerah kawan-kawan siang itu setelah selesai menjalankan tugas di 13 titik di kecamatan se-Kota Bogor. Meskipun siang itu terik, tapi kita penuh dengan semangat.

Kita semua tak ada yang dibayar, kita semua bekerja karena kita suka, atau mungkin karena penasaran? Apapun itu, kerja kita luar biasa. Aku ingin sekali memberikan apresiasiku yang setinggi-tingginya bagi seluruh relawan LMSC8 yang tanpa kenal lelah berjuang bersama untuk mensukseskan acara ini. Ya, mungkin ini hanya acara monumental setahun sekali. Tetap saja, 2000-an karung sampah telah dibebaskan dari Ciliwung.
Ini juga adalah simbol bahwa Kota Bogor punya komitmen, warga Bogor komitmen, dan kita para relawan dari manapun berasal bahwa kita juga punya komitmen. Kita ingin membuat Ciliwung bersih. Mungkin ini bagai mimpi, mungkin itu masih jauh nanti. Tapi toh apa salahnya mimpi? Mari kita mulai melangkah membuat Mimpi Ciliwung menjadi nyata.

TJILIWOENG DREAM milik kita bersama.

(Yuk, populerkan lagi hashtag #Tjiliwoengdream untuk mimpi kamu tentang sungai Ciliwung. :P )


Terimakasih untuk teman-teman semuanya.
Untuk Mutiara, Anggi, Mbak Uti, Ka Een, Ka Muslich, Om Rifky, Pak Ntis, Kang Ida, Aldio, Yayuk, Sheila, Bilqis, The Evi, Sri, Bang Anggit, Arya, Nurul, Frans, Dewi, Ve, Dian, kawan-kawan dari Universitas Pakuan, dari IPB, dari dalam kota Bogor dan bahkan dari Jakarta dan sekitarnya dan masihhh banyak kawan-kawan semuanya 200 kawan relawan LMSC8. Aku bangga sama kita semua. 

Ciliwung Bersih! Bogorku Bersih!

Kita punya kesan dan kenangan di #LMSC8.

"Seru banget! Basah-basahan nyemplung sungai Ciliwung.", Anggi Putra.
"Menyenangkan walaupun agak pusing mengkoordinir LMSC8 . Tapi seru banget!", Mutiara Fadhilla.
"Tahun kemarin juga ikut LMSC7, tahun ini LMSC8.", Nurul.
"Saya dari luar Bogor, saya ingin tahu lebih tentang Bogor dan perspektif masyarakatnya tentang sungai.", Bahrul.
"Kita udah nyemplung Ciliwung, kita juga harus bisa lebih baik mengelola sampah.", Arya.
"Saya bangga banget sama teman-teman relawan yg peduli lingkungan", Agus.
"Saya suka tentang lingkungan, makanya jadi relawan.", Andi Eka.
" Seru banget. Antusias warga besar banget.", Azha
"Dapat banyak teman baru.", Mulyani.


(Sumber: @tjiliwoeng (t))







(Catatan: Riska, Bang Asun, Pak Ntis, Habibah, dan nama-nama yang kucatut, mohon ijinnya ya.. Hehehe)


Siapa yang suka bangun pagi di akhir pekan?!  Adakah? Apakah aku? Akupun ragu. Dan ini adalah cerita tentang Sabtu pagi-ku di pertengahan Desember. Cerita yang berlatarkan Ciliwung dan ke-tiba-tiba-an (mungkin kalau istilah Inggrisnya Ke-suddenly-an kali ya) niatku yang ujug-ujug muncul. Simak ya.

Jumat malam itu aku buka-buka dan kubaca SMS masuk. Satu SMS yang selalu hadir tiap Jumat itu berbunyi: "KPC Bogor Sabtu 12/12/15 mulung sampah bebersih Ciliwung. Kumpul pkl 08.00 wib di depan mesin pencacah plastik KPC Sempur. CP Joko 021xxxx.". Aih, beberapa kawan-kawanku di Bogor pastilah sudah sangat akrab dengan SMS itu. Kamu juga sering dapat ya? Hehehe.. Seingatku dulu, ada ratusan nomer HP yang mendapatkan SMS rutin itu tiap Jumat. Dan ini sudah tahun ke-7, KPC Bogor bergelut dengan Ciliwung, mengajak puluhan-ratusan-bahkan ribuan orang untuk menengok kembali sungai yang pernah jadi wajah sejarah Pajajaran ini. (Kenapa sejarah? Aku teringat cerita jalur tamu dan jalur bangsawan, cerita dari Mas Hari Kikuk tentang sungai ini di jaman dulu.). Kubaca sekilas SMS itu, dan ujug-ujug aku merasa berkepentingan untuk ke Sempur. Okelah, fix! Besok pagi aku ikut mulung. Kuajak Habibah, kawan kosanku yang masih muda belia, dan tak banyak cingcong dia langsung jawab "Oke mbak!".

Tidak jauh, meskipun tak bisa dibilang dekat juga. Kami sampai di Sempur, turun dari angkot 03 yang sesak, jam 8 kurang sepuluh menit. Di tempat berkumpul kulihat seorang ibu paruh baya sedang asik menikmati sebatang rokok. Alamak, jadi pengen juga. Ups, tahan dulu. Kusapa si ibu dan kutanya apa dia datang untuk KPC. Eh, ternyata dia hanya sedang menikmati pagi rupanya. Ah, yasudahlah. Tak berapa lama, Pak Joko sang CP (Contact Person) muncul. Dia mengatakan akan datang juga kawan dari IPB, tepatnya dari Fakultas Ekologi Manusia yang ingin gabung mulung Sabtu pagi ini. Ah, baguslah. Semakin rame biar semakin seru. Dan datanglah mereka, 5 cewek berkerudung dengan kaos hijau pastel kembar. Salah seorang membawa tripod dan lainnya membawa kamera DSLR. Tarohan, pasti tugas kuliah. Hehehe.. Dan memang benar dugaanku.  Mereka pun membuat entahlah, semacam film mungkin, dengan mewawancarai Pak Joko. Aku dan Habibah, melihat-lihat saja sambil sesekali selfie di pinggir sungai. Waktu berselang dan Pak Ntis datang membawa senjata kami: KARUNG!!!

Laskar Karung KPC - Sabtu pagi itu
(Photo by: Sutisna Rey)
Aku dan Habibah mulai mulung duluan. Kuambil 2 karung, satu untuk seorang dan kami turun ke sungai. Kulihat, sampah banyak nyangkut di tepi sungai, terbawa banjir semalam. Gak kebayang, sampah dari mana saja ini? Mulailah aku dan Habibah mulung apa yang bisa dipulung, mulai dari bungkus detergen, bungkus indomi, hingga kutang dan puluhan popok bayi. Nah, yang terakhir itu perlu digaris-bawahi, POPOK BAYI. Astaga,...! Kenapa ya orang-orang ini? Sakit jiwa? Kenapa banyak banget ya popok bayi di kali? Sejak mulung kapan tahun, popok bayi seakan jadi tamu wajib. Bahkan, pernah nih, aku dapat popok bayi yang masih segar berisi. Pasti tahu kan isinya apa? Pokoknya, warnanya gak kalah gonjreng dibanding bendera partai sebelah itu. Jadi gatel pingin ngomongin popok nih. Yuk mari,..

Penggunaan popok bayi sekali pakai sepertinya memang menjadi hal yang perlu diperhatikan. Karena sepertinya, para ibu-ibu (atau bapak-bapak?) penggunanya masih bingung bagaimana cara mengelolanya. "Make'nya sih gampang. Sekali bayi brott langsung buang gak perlu dicuci." Iya sih. Tapi, buangnya gak harus di kali juga. Lalu dimana? Di tempat sampah? Bau kali, jorok, dll. Lah, dikira dibuang di kali gak jorok? Sebenarnya aku pun gak tahu gimana caranya buang popok bayi bekas yang benar. Maklum belum pernah ber-bayi. Apakah di kuning harus dibuang dulu di WC, atau langsung aja buang bareng sama popok-popoknya. Entahlah. Tapi yang jelas, yang make harusnya tahu. Yang jual harusnya juga ngasih tahu. Btw, dikasih tahu gak sih? Jadi ingat sama Jeng Riska, sang dewi Ikan dari Surabaya yang pernah getol mengangkat fenomena popok bayi ini juga. Jeng, gimana sekarang kondisi Kali Surabaya? Apakah popok masih banyak dijumpa? Bang Asun sempat mengajak ber-ide,"Gimana ya caranya biar orang gak buang popok di kali? Apa perlu kita bikin mitos? Orang kita kalau ke mitos lebih cepat percayanya!". Ah, bener juga kataku. Bikin aja rumor,"Buang popok di kali bisa bikin ruam pantat bayi.". Kali-kali aja itu manjur. Sudahlah, popok bayi mah. Lanjut  lagi,..

Oops, ada popok bayi pasti di sana!
(Photo: Sutisna Rey)

Kawan-kawan dari IPB pun ikut nyemplung bersama, jadi ada 5 tambah 2 tambah 2, ahh. 9 orang totalnya yang mulung hari ini. Lumayanlah. Kami bersemangat mengangkut sampah-sampah itu. Aku, paling senang, mengais-ngais sampah yang nyangkut di celah batu. Sampah kayak gitu, kelihatannya dikit, tapi wooo...aslinya banyak. Lebih seru lagi kalau nemu 'Anaconda Ciliwung'. Dijamin keringat mengucur deras. Satu demi satu sampah kami masukkan karung, hingga kemudian tercium baru menyengat yang hampir membuatku muntah. Di dunia ini, hanya satu bau yang bisa membuat mataku langsung merah berair dan perutku seakan mau keluar. Bau bangkai. Dan di Sabtu pagi inipun, bau ini hampir berhasil membuatku mual. Aku tidak sanggup lagi dan tak berapa kami penuhi karung, kami berhenti. Kebetulan karung juga sudah habis, meskipun sampah masih berserakan. Cukup hari ini. Kamipun berpisah dan kembali ke aktivitas masing-masing. Hampir jam 10 pagi waktu itu.

Sambil berjalan di tepi sungai, Habibah mengatakan, "Enak juga ya melakukan begini di akhir pekan?". Aku pun sedikit terhenyak dengan pernyataan itu. Enak? Apanya yang enak? Kalau enak kan pasti banyak orang yang akan turun. Aku berpikir, apa yang bisa dilakukan untuk menjadikan orang juga merasa 'enak' seperti yang Habibah rasakan, seperti juga yang aku rasakan. Rasa enak yang absurd inilah yang mahal. Rasa 'enak' inilah yang bisa menjadi fondasi dasar semua kegiatan yang berdasarkan ke-suka-rela-an atau voluntarisme. Tak ada orang yang dibayar di sini, tak ada fasilitas apapun di sini. Bahkan, yang akan ditemui adalah gundukan sampah yang bahkan menggunung, berbau busuk dan menjijikkan. Tapi, ada yang bilang itu semua 'Enak'.

Aku teringat dulu, setahun lalu aku sempat menanyakan hal yang sama pada beberapa orang di Oregon sana, "What makes you do that voluntary works? Why do you want to do it?". Kenapa orang mau-maunya bersihin rumput di taman kota, kenapa mereka mau nyumbang duit banyak untuk restorasi ikan? Buat apa mereka merelakan waktu untuk ini dan untuk itu? Dan jawabannya hanya sederhana, "I feel good with it.". Sesederhana itu saja. Orang merasa baik, orang merasa enak. Mungkin seperti Habibah bilang 'enak' tadi. 

"Apa kamu punya ide untuk KPC Bogor Net?", tanya Bang Asun dan Pak Ntis siangnya, di kantor FWI yang sudah jadi rumah singgah wajib sehabis mulung, selain tentunya kantor INFIS. Pertanyaan ini agak-agak berat gimana gitu ya. Jujur, aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri dan kerja yang sebenarnya sibuk gak sibuk. Setelah beberapa waktu aku tidak datang di Sabtu pagi, aku merasa tidak layak menjawab pertanyaan itu. Tunggu, tunggu! "Come on Net, this is not very you! ", kudengar aku memarahi diriku sendiri. Hahaha... Oke, oke. Aku coba jawab pertanyaan itu.

Jadi, sama seperti yang kuceritakan tentang Habibah dan rasa 'enak'nya yang absurd itu. Intinya adalah bagaimana membuat orang merasakan 'enak' itu, 'feel good' itu. Bagaimana membuat Ciliwung mempesona bagi mereka? Bagaimana membuat sungai ini menjadi ajang orang-orang berekpresi. Orang yang mau ibadah, bisa bersyukur dan beramal di Ciliwung. Orang yang agak narsis (saya misalnya) bisa selfie-selfie sambil mulung sampah Ciliwung biar kelihatan jadi orang baik. Hahaha.. Yang doyan bermedsos, bisa update status entah di Fesbuk, Twitter, Path, instagram atau apapun lah dengan hashtag Ciliwung. Orang yang doyan nulis pasti akan banyak bahan tulisan. Orang yang suka riset bisa juga cari bahan riset. Atau orang yang memang doyan nyemplung kali  ya tinggal nyemplung aja. Hehehe.. Sepertinya sederhana kan. Memang pada dasarnya, niat ber-voluntary, umumnya sederhana. 

Bagaimana cara? Yok cari bareng-bareng. Yang jelas nyata bagiku adalah, kalau tujuannya kampanye ya harus dilihat banyak orang, didengar banyak orang. Biarkan orang tahu dan melihat. Kalau mereka lihat kita 'enak' toh mereka pasti akan ikutan. Kalau 'enak' sendiri mah apa bedanya sama 'itu'. Hahaha... Maaf, saya nulis ini sudah agak malam sih,  jadi sedikit nyrempet-nyrempet.  Sepertinya sudah ngantuk saya, jadi sudahan dulu ya. Yang jelas, 'enak absurd' itu yang perlu dicari dan mari temukan itu bersama-sama. 

Bukankah begitu kawan?

Salam cinta dan rinduku pada sungai, gunung, hutan, alam semesta dan manusia yang sangat indah. Muachh..

Dan terutama untuk Ciliwung yang berhasil membuatku bangun pagi di Sabtu pagi! Good job C!


Minggu, 13 Desember 2015 (23:49)

Kaos Ijo kawan-kawan FEMA IPB, aku dan Habibah. C...
(photo by: Sutisna Rey)
Giliran teman-teman FEMA IPB, Pak Joko, Pak Ntis, dan Habibah
(Fotonya pastinya aku yang njepret :) )

-----
(Below is the result summary of my study while I was in World Forest Institute's fellowship program. This was also a paper material that was already accepted for IS-River conference in France-2015 which unfortunately I was not able to attend. I just want to share it again here on my personal blog.) 
----

Public Engagement in River Management, Lessons Learned From The Willamette River in USA to Indonesia’s River

Sudiyah Istichomah

Indonesia,  nonette262@gmail.com


ABSTRACT
There is an obvious need for the public to be involved in the management of natural resources, including forests, rivers, and resources. There are major challenges in Indonesia around river management such as floods, pollution, land conversion, and low community participation. The Minister of Environment stated that in 2014 75% of the large rivers in Indonesia were contaminated. This study aimed to explore how rivers are managed in the US, using the Willamette River in Portland as a case study. The focus was especially on public involvement  and how that can be applied to Indonesia. Many things can be learned from the Willamette River are 1) Government agencies are actively involved in community programs, the public are also actively involved, and there are nonprofit organizations that oversee government management, 2) Things like dam removal, installation of LWD for fish habitat, and re-meandering rivers are all management tools that would benefit Indonesia, 3) The use of an iconic species such as salmon as the impetus to restore the river is an excellent idea. Indonesia can look for an iconic  species  of their own , 4) Using the river as part of urban ecotourism. The Willamette River is a great Portland attraction for things like jogging, sailing, swimming, etc.



KEYWORDS
Public engagement, involvement, river, USA, Indonesia


1           Introduction

      Indonesian River and Challenges

There is an obvious need for the public to be involved in the management of natural resources, including forests, rivers, and resources. Today, water and river management  is an important issue around the world. There are major challenges in Indonesia around river management such as floods, pollution, land conversion, and low community participation. The Minister of Environment stated that in 2014 75% of the large rivers in Indonesia were contaminated.

This study aimed to explore how rivers are managed in the US, using the Willamette River in Portland as a case study. The focus was especially on public involvement  and how that can be applied to Indonesia.

Why this study is important:
  1. Water is necessary for all life on earth. Rivers reflect the level care that is put into managing water resource and they need to be cared for.
  2. Learning how developed countries use public involvement in river management  in important so that developing countries can learn from these models.
  3. The Willamette River is an important river in Oregon. It flows through the city of Portland and has a complex management, influenced by the urban environment with many different governmental and interested parties engaged in its management.
For 6 six months fellowship program in World Forest Institute, June – November 2014, writer did a study to learn about river management within the USA, with case study of the Willamette River in Portland, Oregon State. The study’s objectives are to know about the general condition of the river management and to find lessons learned that can be applied in Indonesia.

Four main questions for this study are,
  1. What is the current state of management of the Willamette River in Portland?
  2. Who are the actors that play a role in the management of the river and what are the roles?
  3. Is there a forum that brings together those parties?
  4. How does it compare with the situation in Indonesia?
The research was conducted in two ways: interviews and literature studies. Interviews were conducted with government agencies, experts, non-profit organizations and the general public in random. Literature was reviewed from websites, journals, news and other sources. A number of  fieldtrips with the World Forest Institute also allowed me to gain knowledge about the management of natural resources, especially rivers of PNW in general.

2. RESULT

2.1 Willamette River – Portland, A river with a long history

The Willamette River Basin is the largest watershed in the state, covering more than 11,500 square miles. Portland occupies only a small fraction of the river’s drainage basin, about one-half of one percent, but is the most urbanized area. Native salmon, steelhead and other fish and wildlife species live within Portland’s urban boundary, and also  migrate through Portland to other parts of the Willamette River Basin, Columbia River Basin and beyond.
The Willamette River faces a lot of problems, including pollution and water quality. In 2000, the federal government established that the river has become one of the Super Fund site cleanup projects because of it’s heavy pollution. This program involves many stakeholders: governments, private companies, numbers of environmental organizations, and also the general public who actively care for the implementation of the programs.

Restoration carried out in upstream rivers and creeks also provide a major influence on the Willamette River in Portland. Restoration of the Willamette River, and generally in the PNW, is closely related to salmon, which has been included in the category of endangered species. Salmon migrations connect the downstream and upstream of river systems and salmon habitat restoration has proven beneficial for the restoration of the river as a whole. Various restoration programs are conducted with the involvement of the general public, such as  volunteer-based tree planting, cleaning streams of garbage, and invasive species removal.

2.2 Actors in Willamette River Management

Who are the actors in river management?
In general, there are four groups that play an active role in management: Government, Private companies/ land owners, nonprofit organizations, and the general public.

Government plays the largest role in river management. They set the policy and develop the manage plans. They engage the public throughout the entire process using various means. Some of these are: transparency – letting the media and public know of their plans, public comment periods for each program so they know what the public wants, providing public field tours, and creating advisory groups.

Nonprofit organizations such as Willamette Riverkeepers or watershed councils can play a complimentary role to government organizations. Through their programs and campaigns, they raise awareness about the river and encourage public to be more. They also can monitor the work of government.

Private companies and land owners typically use a lot of water resources for their business and do have a voice in management of the water. They can support the government and nonprofit organizations that works for river by give fund or have partnership. Landowners usually do the stream restoration and conservation in their property.

The general public is the most important part of this system. The public can actively participate in river management in many ways: read the news and updates about government programs, give active responses during public comment periods, and volunteer in events related to the river.

There are of course many divergent opinions about and interests in the Willamette River. Public engagement is one way to help the various groups work together and understand each other interests in the water. However, developing  discussion forums and consensus on ideas and is difficult and requires a lot of work to have all the parties come together.

Are there forums that bring together interested parties?
Advisory councils and watershed councils provide a forum for people to meet and discuss their concerns about the river.
Watershed councils are locally organized, voluntary, non-regulatory groups established to improve the conditions of watersheds in their local area. They bring together local stakeholders from private, local, state, and federal interests in a partnership, to help plan restoration. In Oregon, there are at least 74 watershed councils that build a big network of people dedicated to supporting the work of river protection and restoration throughout the state.

2.3 Lessons Learned: From Portland to Indonesia
River management in Indonesia is led by the government. There are at least 14 ministries related to water management with the Ministry of Public Work being the main ministry in charge of infrastructure and management of the river. There are also several NGOs that are actively involved in water issues. But there is  a lack of participation by the general public.

In Indonesia, there is also a Water Resources Council, a forum of river management parties at the national or provincial level. They don’t function well however  because coordination is lacking and not everyone’s interests can be accommodated. The most interesting thing is the trend of community volunteer organizations like River Defenders which recently formed all around Indonesia as an expression of concern from a small number of the public for the poor condition of the river.

Many things can be learned from the Willamette River:
  •  Government agencies are actively involved in community programs, the public are also actively involved, and there are nonprofit organizations that oversee government management.
  • Things like dam removal, installation of LWD for fish habitat, and re-meandering rivers are all management tools that would benefit Indonesia.
  • The use of an iconic species such as salmon as the impetus to restore the river is an excellent idea. Indonesia can look for an iconic  species  of their own.
  • Using the river as part of urban ecotourism. The Willamette River is a great Portland attraction for things like jogging, sailing, swimming, etc.. Urban rivers in Indonesia have not been widely used for leisure purposes.

---------

img source: here 







Serayu River - Central Java (2011)


"If you have what it takes to make a big change in the environmental condition in this country, what would you want to do?", one of my friend asked me that question. And now, I am still thinking about that. A simple question doesn't always need a simple answer. It can be so much complicated. But, the simpler is the easier to understand, even for the answerer. So, I think that I would just to answer it in simple way.  

It was all started with my 'accidental' interest in river and water management issue that leads me to know a little faction of this big issue. What I know all this time is that there's something wrong with the water management in this country. And, just like everybody else, the easiest way to do is blaming the government. I said, "They should or shouldn't do this and that, bla bla bla...!". I always ask for action from others with justification that that's all their job and I do not have enough power to do it myself. Then, the question hit me for a second!  

If I have all the resources I need (fund, time, team) in order to change the current poor condition of the river in this country, what would I do? What I want to do? Hahaha.. It really hits me. I didn't have confidence answering it in a blink of eye.  Unexpectedly, I need more time to think. Whoaa...! I got something on my mind that really interest me. Maybe my confusion is just the same thing with what the government has. They have resources, they have power, but maybe they don't have any confidence too, just like me. Or, is it just me who lack of imagination? Who knows?

Well, I will try to answer it here.

In this case, I will create a team whose members are credible and expert in the field.  “The right man in the right place”, they said. Every single person on earth has what they can or can’t do by themselves. To do something that we able to do is one of the ways to gain success in our work. Do not make mistake like put someone in the wrong place. Do not make me a singer while I am a tone-deaf person. Just like, do not make an economist to do some conservation jobs. It’s not about if they can’t do the work or vice-versa. Like in an Indian movie ‘3 Idiots’ I watched several years ago, “Can you imagine if Mariah Carey became an Engineer?!” It doesn’t mean that she can’t but her best is to be a singer.

My position? Of course, I would like to choose to be the leader. Why? My experience when I was chosen as a class representative in SD (elementary school) still lingers in my mind and I think it is not a bad idea to do it again. Post power syndrome! (Lol)

Then, I will just ask them the same question, “What would you like to do if you have what it takes to…”.  The right person in the right place and time will know the answer. We will work together as a perfect team! (Somehow, it feels like Multi Level Marketing. J )

As simple as that!

Further question? Let’s wait for the expert’s answer. Maybe ‘The Fish Goddess’ Riska Darmawanti has an answer regarding the river ecology, or the activist of Ciliwung Sudirman Asun has answer about people’ voluntarism, etc. The names I mentioned here just several names that came to my mind when I was writing this. So, it doesn’t mean anything actually.

How would I know the best person? How can I manage all of them? How to ensure everything is okay? How this and that? (OMG! Why this ‘How’ question is so complicated? How many ‘Hows’ are there? Hahaha…
I am laughing to myself again. Maybe I am not qualified to be a good leader like I said. It’s a half joke! I would prefer to be one of the team members who work for the river. What can I do? Social Research maybe….

You?

img source: here 




Hutan TN Gede Pangrango dilihat dari Desa Cimande bersebelahan dengan Desa Pancawati, Caringin, Bogor. 


"Ya, di situ di DAS.", kata Pak Jamil (bukan nama asli) - seorang warga desa sambil menunjuk jurang tempat Sungai Cimande mengalir. Dalam hatiku aku was-was. Kenapa? Terdengar lagi satu istilah yang sempat membuatku berkerut : DAS atau Daerah Aliran Sungai. Jangan-jangan,.... Mari disimak apa yang terpikir olehku saat itu. 

Hari ini, aku mengunjungi Desa Pancawati, sebuah desa di Kaki Gunung Pangrango yang diapit oleh rimba yang kini telah berstatus Taman Nasional Gede Pangrango dan daerah-daerah industri terutama Pabrik Danone Aqua yang boleh dikatakan sebagai perusahaan air minum dalam kemasan terbesar di Indonesia. Di desa yang katanya merupakan daerah yang dekat atau malah memang daerah 'recharging area' - kawasan untuk serapan air tanah, berbagai kegiatan yang melibatkan perusahaan air itu pun menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Danone telah menggelontorkan dana CSRnya dan mungkin dana lainnya juga di sini. Melalui LSM lokal setempat, perusahaan itu telah membantu masyarakat setempat baik dalam bidang ekonomi ataupun pembinaan tentang lingkungannya. Tak lupa pula, ada peran taman nasional yang juga ikut kecipratan 'rejeki' dari adanya perusahaan besar ini. Nah, apa hubungannya dengan Pak Jamal dan DAS? Aku bukannya akan membahas tentang program ataupun untung rugi adanya interaksi ini. Aku hanya ingin menggaris-bawahi penggunaan istilah populer, terkesan scientific, cerdas, dan sering sekali disalah-pahami, yaitu DAS. 

Interaksi yang intensif antara masyarakat dengan golongan akademisi, peneliti, perwakilan perusahaan dan aktivis lingkungan yang kadang menggunakan kata-kata dan istilah tertentu, pasti akan menulari pula penduduk dampingan. Karena ini terkait air, maka istilah DAS ikut-ikut terbawa. Bagus di satu sisi. Tapi, jika terjadi kesalah-pahaman tentu menjadi kurang bagus. Nah, ini pula yang aku kuatirkan terjadi dengan Pak Jamal. Ketika dia menyebut kata DAS sambil menunjuk sungai dengan yakinnya, aku mulai ber-dejavu dengan pengalamanku dulu saat aku menemui permasalahan yang serupa. Orang seringkali aku temui menyalah-artikan definisi DAS dengan wilayah kanan-kiri sungai yang dibatasi garis sempadan sungai. Padahal, dua hal itu jelas tidak sama. (Ups, istilah bantaran dan sempada saja ternyata artinya beda. :O) 

"Daerah aliran sungai adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan." (UU no. 7 tahun 2004 tentang Sumberdaya Air). 

Sedangkan garis sempadan sungai adalah garis maya/khayal di kanan dan kiri palung sungai yang ditetapkan untuk perlindungan sungai (PP 38/2011 tentang Sungai). Nah, daerah antara garis sempadan dan palung sungai itu yang mungkin seringkali disalah-pahami sebagai DAS. Silakan disanggah jika asumsiku kurang tepat.

Apa yang membuat dua hal ini sering disama-artikan ya? Ada yang tahu? Monggo kalau mau urun suara bisa dikomen. 

Dengan perkataan Pak Jamil di atas tadi, aku berasumsi bahwa dia salah paham. (Aku akan coba cek lagi kapan-kapan. :) ) Pertanyaan lanjutannya adalah, darimana dia bisa salah paham? Ada dua kemungkinan, yaitu: dia memang salah paham sendiri atau jangan-janan memang pendamping masyarakat yang mengenalkan definisi DAS itu pada Pak Jamil sudah salah paham duluan. Tidak mustahil terjadi kemungkinan yang kedua. 

Nah, lalu yang menjadi perhatianku adalah penggunaan istilah dan bahasa-bahasa tertentu ketika berbicara dengan masyarakat umum. Kenapa ada jurusan khusus komunikasi dengan masyarakat di kampus-kampus terkenal, misalnya saja IPB yang punya KPM (Komunikasi Pengembangan Masyarakat)? Pasti karena berkomunikasi dengan masyarakat itu bukan perkara mudah. Karena itu diperlukan keterampilan khusus yang mumpuni agar apa yang kita sampaikan benar-benar pas dipahami oleh mereka, tidak kurang dan tidak lebih.Jangan sampai salah paham apalagi salah langkah. :)

Aku dulu sempat jengkel terhadap seorang kawan yang punya hobi ngomong dengan 'Bahasa Dewa' - suatu istilah untuk bahasa yang susah dipahami konteks maupun maknanya tapi terdengar 'wah' karenan banyaknya penggunaan kata-kata asing, serapan, dan akademis. Ampun banget orang-orang kayak gini! Pernah aku katakan langsung bahwa bisa saja bagi dia indikator seseorang itu cerdas adalah dari semakin tidak dipahaminya apa yang dibicarakannya. "Semakin orang gak paham, maka lo semakin keren dan cerdas!", kataku saat itu. Tapi, masa ya gitu sih? 

Aih, aku tetiba jadi teringat video rekamana Vicky Prasetyo saat pidato pemilihan Kades dengan bahasa Inggris ngaco-nya, yang diiringi para tetua desa yang manggut-manggut entah kagum, entah ngerti, atau entahlah. Jangan sampai kita seperti itu. 

Lhah kok, nyambungnya sama salah konsepsi DAS apa? Coba kamu sambungkan sendiri, lagipula semua ini hanya asumsiku.

Aku di TKP :) 

Jika Amerika punya Salmon, maka Indonesia punya Chitra chitra sebagai maskot restorasi sungai. Benarkah?
Tulisan ini adalah salah satu jawaban dari pertanyaanku di artikel tentang Salmon (baca: Salmon, Primadona Ikan di Pacific North West). 
Di tulisan sebelumnya, aku membahas tentang Ikan Salmon, yang menjadi maskot restorasi sungai di Amerika Serikat karena masuk dalam kategori satwa terancam punah menurut Endangered Species Act. Status Salmon tersebut mewajibkan pemerintah dan juga warga negara untuk ikut serta melindungi Salmon dengan salah satu caranya adalah memperbaiki tempat hidup atau habitat Salmon, yaitu sungai.

Berangkat dari itu, aku menjadi terpikir, adakah sesuatu maskot yang bisa mendorong adanya restorasi sungai di Indonesia? Kemudian aku teringat dengan geger tahun 2011 kemarin saat ditemukannya Bulus raksasa di Sungai Ciliwung Jakarta, tepatnya di daerah Tanjung Barat (Baca berita: penemuan bulus raksasa Ciliwung). Bulus berukuran panjang hampir 1,5 meter yang memiliki nama ilmiah Chitra chitra javanensis adalah satu dari sekian banyak satwa penghuni Sungai Ciliwung yang masih bertahan sampai saat ini. Dan kemungkinan besar bulus ini bisa menjadi maskot restorasi sungai di Indonesia, khususnya di Jawa yang menjadi habitat utamanya. Inisiasi ini juga sudah dimulai oleh Komunitas Ciliwung.
C. chitra javanensis yang ditemukan di Ciliwung Jakarta November 2011 (img source: here)

Chitra chitra javanensis adalah salah satu subspecies dari Chitra chitra atau nama internasionalnya adalah Asian narrow-headed softshell turtle (Kura-kura Asia dengan tempurung lunak dan dan kepala menyempit).  Urutan taksonomi bulus ini adalah sebagai berikut:

Kingdom: Animalia , Phylum: Chordata, Class: Reptilia, Subclass: Anapsida, Ordo: Tertudines, Sub-Ordo: Cryotidora, Family: Trionychidae, Genus: Chitra, Species: Chitra chitra, sub-species: Chitra chitra javanensis.

 
Genus Chitra: (A) C indica (Bangladesh); (B) C vandijki (Myanmar); (C) C chitra chitra (Malaysia); (D) C chitra javanensis (Indonesia). (McCord et.al 2002)





Sebaran bulus ini adalah di Pulau Jawa dan juga Sumatra bagian selatan. Bulus Chitra chitra menghuni wilayah perairan air tawar yaitu sungai-sungai. Mereka biasanya berada di bawah lapisan lumpur/pasir sungai.  Spesies bulus ini masuk dalam ketegori Critically Endangered menurut IUCN dan Red List Appendix II dalam CITES. Di Indonesia sendiri dalam PP no. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, species Chitra yang dilindungi adalah Chitra Indica atau Labi-labi Besar yang tentunya berbeda spesies dengan Chitra chitra. Aku tidak bisa menemukan adanya peraturan nasional yang melindungi C. chitra.
Sebaran C. chitra javanensis (McCord et. al 2002)
Ancaman utama kelestarian bulus ini adalah perburuan dan juga rusaknya habitat. Diketahui bahwa perburuan bulus ini banyak dilakukan di daerah Pasuruan – Jawa Timur dan juga beberapa kali di Bengawan Solo – Jawa Tengah. Sebagian besar perburuan dilakukan untuk jual-beli koleksi reptil. Pencemaran sungai yang masih marak berlangsung saat ini juga menjadi ancaman bagi bulus Chitra chitra yang menyukai perairan air tawar yang bersih.

Penemuan bulus raksasa C. chitra javanensis di Sungai Ciliwung menjadi bagian penting dalam upaya restorasi sungai Ciliwung yang dimotori terutama oleh jejaring Komunitas Ciliwung yang kemudian  menetapkan tanggal 11 November yang bertepatan dengan penemuan bulus sebagai Hari Ciliwung. Lalu, setelah 3 tahun sejak November 2011, bagaimana perkembangan restorasi Ciliwung dan bagaimana juga nasib bulus raksasa ini?

Saat aku menulis catatan singkat ini, aku belum banyak menemukan perkembangan berarti terkait riset ilmiah tentang Chitra chitra javanensis yang juga oleh masyarakat lokal disebut Senggawangan. Setelah mencoba berselancar di dunia maya dengan kata kunci ‘Chitra chitra javanensis’, ‘senggawangan’, dan lain-lain yang sekiranya terkait dengan isu bulus raksasa, namun hasilnya tidak terlalu banyak. Menurutku sudah sewajarnya jika hewan langka bahkan dilindungi, harus mendapatkan perhatian lebih terutama juga karena ancaman yang dihadapi cukup berat. Jika tidak ingin menyusul kepunahan species yang juga terjadi di Ciliwung, yang telah memakan korban punahnya 90% spesies ikan asli akibat rusaknya habitat, serangan ikan non-asli invasif, dan eksploitasi.

Upaya untuk melindungi Chitra chitra javanensis terkait langsung dengan restorasi sungai. Langkah yang telah diambil oleh para penggiat Komunitas Ciliwung dengan menjadikannya maskot Ciliwung menurutku sangatlah tepat. Maskot membuat sesuatu menjadi lebih menarik dan bertujuan. Orang akan lebih tertarik dengan suatu tujuan yang ‘nyentrik’ daripada tujuan mulia yang terkadang dinilai ‘basi’ dan terlalu mengawang-awang. Menyelamatkan Bulus Raksasa dari ancaman kepunahan menurutku lebih menarik daripada hanya slogan membersihkan sungai untuk kebaikan bersama. Meskipun pada prakteknya, penyelamatan habitat bulus akan sama artinya dengan restorasi sungai itu sendiri. Seperti orang berjualan, diperlukan branding yang kuat, begitu pula dengan restorasi sungai.

Belajar dari Pacific North West, pantai barat Amerika yang saat ini juga banyak melakukan proyek restorasi sungai, Salmon adalah maskot utama. Perlindungan habitat Salmon telah membawa efek yang kuat terhadap upaya perbaikan kualitas sungai dari hilir sampai hulu, mulai dari program penghijauan daerah riparian hingga proyek besar perobohan dam/bendungan yang nilai dalam dolarnya sangat spektakuler. Salmon telah berhasil menjelma menjadi ikon sungai sehat di sini. Jika Salmon bisa,  Chitra chitra javanensis juga bisa kan?
Referensi:
McCord WP, Prtichard Peter CH.2002. A Review of The Softshell Turtles of The Genus Chitra, With The Description of New Taxa From Myanmar and Indonesia (Java). Centre for Herpetology, Madras Crocodile Bank Trust, Hamadryad Vol. 27, No. 1, pp. 11 – 56. (link)
[IUCN] International Union for Conservation Nature.The IUCN Red List of Threatened Species: Chitra chitra. (link)
Berita:
 


Pertama kali aku mencoba mengenal sungai di negeri ini, aku langsung diherankan dengan ikan selebriti ini, Salmon. Ikan migran ini memiliki posisi dan pengaruh yang sangat penting terhadap sungai-sungai di negeri ini. Dam dirobohkan untuk memberi jalan pada si ikan ini, instalasi LWD (Large Wood Debris) yang biayanya spektakuler rela dilakukan untuk memberi si ikan tempat memijah, setiap ada proyek yang berhubungan dengan aliran air/ sungai selalu nama Salmon di bawa-bawa untuk memastikan kepentingan si ikan tidak terganggu, bahkan pemerintah federal dengan sengaja membunuh sejumlah pemangsa Salmon (burung, anjing laut). Pokoknya, si Salmon ini bak selebriti di sini. Meski kadang keputusan pemerintah dinilai kurang populer, namun tetap saja dilakukan untuk menjaga si Salmon.

Salmon adalah nama umum yang digunakan untuk menyebut sejumlah jenis ikan dari famili Salmonidae. Ikan-ikan Salmonidae yang tidak tidak disebut Salmon antara lain Trout, Char, Grayling dan Whitefish. Ikan Salmon aslinya berasal dari Samudra Pasifik dan juga Samudra Atlantik bagian utara, meskipun kini sudah banyak budidaya Salmon yang dilakukan hampir di seluruh dunia. Ikan Salmon bersifat 'anadromous' yaitu Salmon yang hidup di laut bermigrasi dari laut ke air tawar untuk bertelur atau bisa juga bagi Salmon yang hidup di air tawar yang bermigrasi ke sungai yang lebih hulu untuk bertelur. Kebalikan dari anadromous adalah catadromous, yaitu ikan air tawar yang  bermigrasi ke laut untuk bertelur. Ada dongeng (folklore) yang menceritakan bahwa Salmon akan kembali tepat dimana dia dilahirkan/ menetas dan menurut beberapa studi hal ini benar. Bagaimana mereka bisa mengingatnya ya?


Salmon life cycle
1. Salmon eggs hatch in the redd
2. Fry grow in the stream
3. Young Salmon migrate downstream and journey to the sea
4. Salmon spend years at sea - feeding, growing and storing nutrients from the ocean
5. Large adult Salmon journey back up the river
6. Adult lay and fertilize eggs (spawn), then die
7. Salmon get eaten and nutrients are spread througout the area (forest, land)

Salmon adalah sumber makanan yang penting. Penduduk asli Amerika (Native America aka Indian) bahkan menyebut Salmon sebagai 'roti'nya orang mereka. Sudah sejak lama, Salmon menjadi makanan paling penting bagi penduduk native. Tidak hanya mereka, hampir semua orang di sini menyukai Salmon. Posisi Salmon dalam ekonomi lokal di daerah inipun menjadi sangat penting. Selain itu, ikan ini juga menjadi sumber makanan penting bagi spesies lain seperti beruang, anjing laut dan juga burung pemangsa.

Salmon dan Native American. Sebuah gambar di Museum at Warm Spring, Oregon

Dalam kaitannya dengan restorasi sungai, Salmon memiliki fungsi penting. Salmon yang bermigrasi dari laut ke hulu mensyaratkan kondisi sungai yang sehat. Kejernihan air, temperatur yang tepat, jalur migrasi yang lancar dan tentu saja tempat bertelur yang nyaman. Dari hilir ke hulu, dari laut ke tempat bertelur, Salmon telah menyatukan satu kepentingan yang sama yaitu sungai yang baik. Jika ada gangguan di tengah jalan, maka rantai migrasi Salmon akan terputus. Pernah suatu ketika, di Kota Portland, temperatur air di Sungai Willamette lebih tinggi dari normal pada saat musim migrasi Salmon. Akhirnya, banyak ikan yang mati kepanasan. Ataupun bendungan yang menutup jalan migrasi sehingga Salmon tidak bisa lewat. Meskipun Salmon adalah ikan yang bisa melompat, tapi tingginya bangunan bendungan tidak bisa dilaluinya. Karena itulah, Salmon mampu berbicara bagaimana kondisi sungai di wilayah ini. Jika Salmon bisa ditemukan di suatu sungai dalam kondisi baik maka bisa diartikan sungai itu cukup baik. Nah, ini pula yang akhirnya membawa Salmon menjadi seleb ikan di sini.

Hutan-hutan di PNW banyak yang dimiliki oleh privat, baik keluarga ataupun korporat. Di hutan-hutan tersebut, mengalir sungai-sungai kecil-besar yang sebagian menjadi jalur migrasi Salmon ataupun tempat bertelur. Hilangnya Salmon dari satu aliran yang dulunya pernah didatangi Salmon adalah pertanda buruk, bahwa ada yang salah dengan sungai. Hal ini bukanlah berita baik dan kadang menjadikan para pemilik lahan was-was. Banyak kelompok pemerhati lingkungan (pemerintah ataupun NGO) yang mengawasi si ikan ini. Masyarakat umumpun juga menaruh perhatian untuk si ikan. Para pemilik lahan dan juga pemerintah umumnya akan melakukan apa saja untuk menjaga ataupun membuat Salmon kembali ke sungai-sungai mereka. Kenapa? Karena "jika sungaimu didatangi Salmon, maka kamu orang yang baik."

Instalasi LWD di hutan privat sebagai tempat untuk Salmon bertelur



Bagaimana dengan Indonesia?

Aku tidak tahu apakah di Indonesia ada ikan migran juga. Ikan migran mungkin bisa dijadikan maskot sungai. Mereka bisa menghubungkan hilir dan hulu. Merekapun bisa bercerita ada apa saja di sepanjang perjalanannya menyusur sungai? Membuat tren menyelamatkan ikan sepertinya bagus juga, secara tidak langsung juga menyelamatkan habitatnya yaitu sungai.

------------
(Tulisan pemanasan untuk besok mempelajari tentang koordinasi pengelolaan sungai di Oregon. Karena malas berpikir ngawang-awang, akhirnya bikin tulisan ini. Sekaligus refresh memori dan bongkar-bongkar kembali file di kepala. Hanya ulasan ringan saja)

Hood River, Oregon USA.


Penahkah kamu mendengar tentang Dewan Sumberdaya Air (DSDA)? Atau mungkin Forum DAS? Ehm, bagaimana jika dengan Komite DAS?

Jika minimal kamu pernah mendengarnya, maka saya berani katakan kalau kamu 'cukup tahu' tentang kondisi pengelolaan air di negeri ini. 'Cukup tahu' itu apa maksudnya? 'Cukup' yang belum cukup. Perbandingan ini menjadi cukup karena dibandingkan dengan yang sama sekali tidak tahu. Antara 1 dan 10 itu jaraknya lebih sempit dibanding 0 dan 1. Kenapa? Karena 1 dan 10 sama-sama ada, hanya beda besarnya saja. Tapi kalau 0 dan 1 bagaimana? Berapakah besar antara ke-tiada-an dengan ke-ada-an? Jarak antara yang maya dan nyata? Jarak antara yang tahu dengan yang sama sekali tidak tahu. Makanya, aku berani katakan jika kamu minimal tahu atau ingat pernah mendengarnya, ya itu bisa dibilang 'cukup tahu'.

Dewan Sumber Daya Air Nasional (DSDAN) adalah wadah koordinasi antar pemilik kepentingan sumberdaya air di tingkat nasional dan di tingkat daerah bernama Dewan Sumber Daya Air Daerah (DSDAD). Adanya DSDAN dan DSDAD diatur oleh Undang Undang Sumberdaya Air (UU SDA) no. 7 tahun 2004. Sebelumnya, sudah ada wadah koordinasi keairan di tingkat daerah, yaitu: Panitia Tata Pengaturan Air (PTPA) dan Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA). (Mustikasari, 2013)


Wadah koordinasi itu apa? Menurut KBBI Wadah bisa juga diartikan sebagai tempat berhimpun atau perhimpunan. Wadah koordinasi berarti perhimpunan untuk melakukan koordinasi. Koordinasi adalah kata serapan dari Bahasa Inggris coordination yang berarti perihal mengatur suatu organisasi atau kegiatan sehingga peraturan dan tindakan yg akan dilaksanakan tidak saling bertentangan atau simpang siur. Jadi bisa dikatakan bahwa wadah koordinasi ini adalah perhimpunan dari bermacam-macam pemangku kepentingan yang bertujuan agar pengaturan kepentingan tersebut tidak simpang siur/ saling bertentangan.

Para pemangku kepentingan (stakeholderS) dalam pengelolaan SDA tentunya sangat beragam dan masing-masing memiliki agenda yang bermacam-macam. Wajar saja, karena semua pihak memerlukan air. Kebutuhan akan air adalah milik semua orang dan semua makhluk hidup.Jika berbicara tentang kebutuhan dasar, maka kebutuhan kita akan air mungkin akan sama/ tidak terlalu berbeda. Hampir setiap orang di bumi ini hanya butuh air lebih kurang 2 liter per hari untuk konsumsi, di manapun manusia itu berada. Lain ceritanya jika kebutuhan air dikaitkan untuk hal yang lain. Kebutuhan air bagi petani, bagi pengusaha tambak ikan, bagi industri, hotel, restoran, PDAM, PLN, pabrik tekstil, dll. Mereka semua memiliki kepentingan dengan air, tentunya berbeda. Air yang satu (kesatuan) harus dikelola sedemikian rupa untuk memenuhi kepentingan para pihak yang beraneka rupa itu. Bagaimana caranya? Apakah tidak terjadi simpang siur, tumpang tindih, dan kesemrawutan? Di situlah fungsi pemerintah, yaitu sebagai pengatur.

Sebagai pengatur yang baik pastinya harus tahu kebutuhan para pihak yang diatur. Jangan sampai tukang ngatur tidak mengerti apa yang harus diatur. Itu bahaya sekali. Misalnya ya pemerintah mengeluarkan kebijakan yang sama nggak nyambung dengan apa yang seharusnya diatur, mungkin gara-gara salah informasi atau karena malas. Siapa tahu. Nah, untuk mengetahui itu, pemerintah harus mendapatkan informasi dari sumbernya langsung. Dan agar sesama pihak bisa saling memahami kondisi juga, maka mereka harus dipertemukan dalam satu tempat, dikumpulkan dalam satu wadah. Ini penting karena, kepentingan para pihak pastinya akan selalu beririsan, mengingat semuanya terkait dengan satu barang yang sama: air. Wadah yang dibentuk pemerintah inilah yang tadi saya singgung di depan.

Wadah-wadah itu menampung para pihak yang terkait dengan air. Semua orang perlu air tapi tidak bisa semua orang diwadahi kan, sehingga ada perwakilan. Perwakilan dari kelompok-kelompok para pengguna air. Kita tahu bahwa semua orang menggunakan air dengan bermacam cara dan kepentingannya pun sering berbeda. Namun pengelompokan tetaplah penting untuk memudahkan koordinasi. Dari kelompok-kelompok tersebut ditunjuklah/ dipilih wakil yang bisa menyuarakan aspirasi. Mungkin macam DPR, tapi khusus mengenai pengelolaan air. Di sinilah kepentingan itu akan dikolaborasikan (atau mungkin diadu) untuk memberikan rekomendasi kepada pemerintah yang tugasnya mengatur tadi itu. Kelompok-kelompok di wadah tersebut bisa dibedakan secara garis besar ada dua yaitu kelompok pemerintah dan bukan pemerintah. Siapa kelompok pemerintah? Ya dinas-dinas yang berurusan dengan air, misalnya dinas pengairan, pertanian, kesehatan, dll. Sedangkan kelompok bukan pemerintah ya bisa kelompok petani, pengusaha, LSM, dll.

Di wadah-wadah koordinasi itu, diharapkan adanya harmonisasi dan kesamaan pemahamaan dari setiap anggota, agar tidak salah paham. Bahaya sekali jika ada konflik mengenai air. Air adalah bagian penting dari kemanusiaan. Setiap pihak di wadah ini, apapun kepentingannya, diharapkan bisa berdiri sama tinggi, duduk sama rendah, dan mencari jalan terbaik untuk bersama-sama menggunakan air dengan bijaksana. Wadah yang bisa menyatukan berbagai pihak.

Pertanyaannya adalah, apakah wadah-wadah tersebut sudah berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Apakah isi dari wadah itu sudah proporsional? Dan apakah para anggotanya benar-benar sudah terlibat aktif dan memiliki kedudukan yang setara? Bagaimana pula dengan koordinasi antara wadah-wadah tingkat daerah dengan nasional? Dan sebenarnya masih banyak pertanyaan lainnya.

---
Selama aku di Portland, aku juga mencari tahu tentang wadah-wadah koordinasi seperti ini. Di Amerika, ada dikenal istilah Watershed Council atau padanan bahasanya (mungkin) Dewan DAS. Apakah watershed council di sini sama dengan DSDA di Indonesia? Nah, ternyata tidak sama meskipun ada kesamaannya pula. Apa itu watershed council? Aku akan menuilsnya di tulisan selanjutnya.
Antara alumni fahutan, mantan pegawai HPH yang bangkrut, penjaga WC umum, ilmu kehutanan dan Climate Change.

Mendengar 5 frasa di atas, apa yang ada di pikiran kamu?

1. Alumni fahutan ipb
2. mantan pegawai HPH yang bangkrut
3. penjaga WC umum
4. penerapan ilmu kehutanan
5. Climate change

Seseorang, Mbak Rita namanya (ini bukan nama samaran :-P), bahwa dengan konsep 'integrated' atau keterpaduan maka semua hal itu selalu ada kaitannya, ada hubungannya, dan ada sangkut-pautnya. Ah, masa iya.

Bicara tentang keterkaitan, selintas aku ingat dengan 'butterfly effect'nya Edward Lorenz dengan teori chaos yang pernah dikemukakan Henri Poincare. Katanya, "kepakan kupu-kupu di Brazil bisa menyebabkan tornado di Texas!". Atau dengan kata lain, kepakan kupu-kupu itu berhubungan dengan si angin tornado yang letaknya jauh sekali. Nah, hubungan antara kepakan kupu-kupu dengan tornado itu apa? Aku juga gak tahu. 

Katanya, si kepakan kupu-kupu adalah kondisi awal sebagai syarat terjadinya peristiwa kemudian. Perubahan sekecil apapun akan memberikan hasil akhir yang sama-sekali berbeda. Kok jadi mirip hukum sebab-akibat ya? Jika ada sebab pasti ada akibat, meskipun akibatnya itu random atau tidak jelas. Lha, terus gimana mengkaitkannya jika hubungannya acak? Entah! Kenapa juga aku malah jadi kepikiran pertanyaan bak ahli matematika dan fisika (meski dulu pernah jatuh cinta juga dengan mereka. hahaha). Malah kemana-mana ini. Balik lagi ke 5 frasa itu. Aku mencoba menantang diriku sendiri untuk mengkaitkan ke-5 hal itu. Tidak perlu lama-lama mikir, cukup membuka kepala dan langsung menulisnya di sini dalam waktu entah berapa lama sampai aku bosan sendiri.

"Ada seorang alumni perguruan tinggi, dapat gelar akademik di bidang kehutanan, pernah bekerja untuk satu perusahaan HPH di tanah Borneo. Karena perusahaan bangkrut, maka jadilah alumni berhenti dari pekerjaannya. Mungkin karena kepepet atau hidup sedang tak berpihak kepadanya, maka si alumni terpaksa pulang kembali ke kampung halamannya di Jogja, bekerja ala kadarnya, 'apa
saja yang penting halal' mungkin.

Hingga kemudian seorang juniornya, yang satu almamater dengannya secara tak sengaja bertemu di depan sebuah WC umum di Stasiun Lempuyangan Jogjakarta. Sebut saja nama sang junior ini Rein. Kala itu Rein masih menjadi mahasiswa, sedang mengurus tugas kuliahnya di Kota Pelajar itu. Karena memang si Rein ini sangat ramah, berbincanglah dia dengan seorang penjaga WC di stasiun kereta yang tak dinyana adalah seorang senior! 

Kesamaan almamater memang menjadi bahan perbincangan seru. Aku bisa bayangkan itu. Aku dulu juga pernah bertemu dengan senior satu almamater di Kampar Riau. Meski baru sekali ketemu dengan senior yang kala itu jadi pejabat desa, rasanya ngobrol lancar jaya. Tidak jauh-jauh yang dibicarakan, pasti seputar kos-kosan dan dunia malam BARA. :D Kira-kira apa yang diobrolkan sama Rein dan sang alumni tadi ya?

Aku dan Bang Rizal, senior nemu di Riau

Waktu-pun berlalu sudah 10 tahun ketika aku menulis kisah ini. Akupun juga baru mendengarnya beberapa hari lalu dari Om Rein, yang juga adalah seniorku dan sekarang sudah alumni. Jadi si tokoh utama alumni penjaga WC tadi adalah seniornya seniorku. Hahaha.. Malah ribet sendiri.

Nah, terhadap kisah ini, ada yang berkomentar bahwasanya 'ilmu kehutanan juga bisa dipakai di banyak tempat'. Dalam obrolan ini ya untuk bekerja sebagai penjaga WC'. Kamu kebayang tidak? Jika kamu, misal seorang sarjana kehutanan, entah karena kepepet ataupun lainnya, kamu jadinya bekerja sebagai penjaga WC umum. Setelah mengenyam pendidikan kehutanan selama minimal 3,5 tahun, kira-kira ilmu mana yang bisa terpakai untuk pekerjaanmu itu?

Apa dendrologi? Inventarisasi hutan? Pemetaan wilayah? Ekologi hutan? Pemanenan kayu? Kimia kayu? Atau,....Aku malah jadi mendaftarkan mata kuliah. Padahal sudah banyak orang bilang jika ilmu itu tak sebatas mata kuliah. Ilmu itu tak sebatas slide ataupun diktat yang dikasih dosen. Ilmu itu bisa ini bisa itu. Aku pun tak tahu definisi jelas ilmu. 

Jadi jika disuruh membuat daftar ilmu yang didapatkan ketika kuliah ya agak susah. Bisa saja aku membiaskannya dengan makna 'pengetahuan' alias sesuatu yang aku tahu (aku rasa aku tahu). Sedangkan ilmu DAN pengetahuan adalah dua hal yang beda. Kalau sama, pastinya jadi 'ilmu ATAU pengetahuan'. 

Sekarang aku mulai berandai-andai, apa yang seandainya terjadi jika aku seorang penjaga WC. Ah, setiap hari kerjaku dimulai jam 9 pagi dan pulang jam 3, ganti shift sama penjaga berikutnya. Kerjaku hanya duduk dan menunggu orang buang hajat, memastikan mereka membayar seribu perak sekali main. Mungkin dalam sehari bisa dapat setoran kotor 50 ribu? 100 ribu? Dari setoran bisa dapat 30 ribu mungkin per hari. Terbayang betapa bosan waktu berjalan, terlebih jika sepi, duduk sendiri memandang peron kereta yang kosong. (Ah, aku baru ingat jika aku bekerja di stasiun) Karena aku seorang sarjana kehutanan, mungkin aku masih tertarik bicara hutan. Aku mungkin akan mengajak orang-orang di sekitarku berbicara tentang hutan, mengkampanyekan tentang perlindungan hutan?

Ahh, tapi kok rasanya malu juga ya. 'Ketahuan jika seorang sarjana cuman jadi tukang jaga WC nanti'. Oalah, aku masih orang Jawa ternyata. Rasa isin (malu), gengsi itu masih ada pastinya. Belum lagi tak tahan olok-olok dan cibiran yang tak terdengar. Sudah jadi rahasia umum itu jika banyak wong Jowo kadang hobi 'ngrasani' (mempergunjing) orang, apalagi yang begini ini, isu sangat seksi sekali. 'Alah, adoh-adoh sekolah, tiwas diragati yo mung gur dadi tukang jogo jedhing!(Halah, jauh-jauh sekolah, sudah dibiayai, ujung-ujungnya cuman jadi tukang jaga WC', mungkin itu yang akan didengar dari bisik-bisik sana-sini. Padahal aku juga sempat kepikiran bahwa orang yang takut dirasani itu sebenarnya adalah tukang ngrasani. Lha, iya kan? Waduh! Jangan-jangan aku ini sebenarnya tukang gosip yang tidak sadar diri! Sungguh bahaya. :-0

Lupakan sejenak 'rerasan' / gosip dulu. Mari kembali ke ilmu kehutanan (atau sebenarnya ilmu kehidupan?). Aku rasa, meskipun dipaksakan seperti apapun, akan sulit menemukan titik temu antara ilmu kehutanan dan tukang jaga WC. (Mohon ingat lagi definisi 'ilmu' ku). Bisa sih pasti bisa karena tak ada yang tak mungkin katanya. Tapi pengalaman hidup saat sekolah/ bekerja di bidang kehutanan itu selalu bisa digunakan. Misalnya saja, waktu sekolah kehutanan diajari tentang gimana caranya analisis vegetasi. Nah, pas jadi tukang WC bisa saja ilmu anveg dipraktekkan, misalnya 'sabar'nya ngukur dan ngolah data dipakai untuk 'sabar' menghadapi pungli. Halahh,... nyambung gak tuh? :D ;-D

Pengalaman hidup adalah sesuatu yang sangat general, umum tapi sekaligus pribadi. Pengalaman yang kurasakan sudah menjadi hak patenku sejak aku lahir, begitu pun juga kamu dan semua orang. Tidak ada seorangpun yang bisa menggantikan hidup orang lain kan. Tapi kita bisa juga berbagi cerita, lewat tutur kata, wacana, apapun medianya. Pengalaman yang dibagikan pada orang lain akan melatih imajinasi si penerima. Aku tak bisa merasakan apa yang kamu rasakan, tapi aku bisa membayangkan kira-kira apa yang kamu rasakan! Yaaa.. Itulah kekuatan imajinasi.

Balik lagi,

Ngomongin perubahan iklim pasti akan panjang. Seluruh dunia juga sedang ngomongin itu. Nah, perubahan iklim ini apakah mungkin mempengaruhi perubahan kerja si bapak alumni yang beralih profesi? Sebelum itu, aku harus yakin dulu bahwa perubahan iklim ini memang benar-benar terjadi. Jika aku sendiri tak percaya dia ada, bagaimana aku bisa meng-kambing hitam-kannya. Sama seperti nyalahin setan, tapi tak percaya setan itu ada. Nembak bodongan seperti nembak SIM. Hehehe, nyambung lagi gak tuh. Oke, aku percaya perubahan iklim itu benar adanya. Secara gampangannya, aku merasa sekarang lebih panas, musim sudah gak teratur lagi.

Karena aku sudah percaya, sekarang aku boleh dong menuduhnya. ;-P
Sebelumnya aku mau cerita dulu tentang kejadian beberapa waktu lalu saat aku ngobrol dengan teman bule-ku di Amrik sini.

Obrolah pertama dengan Joy, seorang perempuan forester nih.
Aku, "so how about the fire cases in Oregon recently?"
Joy, "Well, most of cases are caused by lightning. It's natural thing here. And I think that mother nature is changed. Of course, it effects the fire too. Climate change is already happened here!"
Aku, "In other words, the change is natural. So, what can we do then?"
Joy, "Nothing much that we can do. We could only try to prevent that but mother nature has her own laws."

Obrolan kedua dengan seorang kawan juga, Grad namanya, aktivis sungai di sini.
Aku, "You know Grad, in my country, there's a river called Ciliwung that always flooded every year. In the past, the flood was only once in 4-5 years."
Grad, "Why it happened?"
Aku, "People said that it because the deforestation and land convertion in the upstream."
Grad,"How about the rainfall?"
Aku, "Actually I don't know about the exact amount of the rainfall.". Aku mulai gelagapan nih, jadi tahu kalau aku tidak tahu. Mau sotoy tapi gak bisa. Lalu timbullah di kepalaku si kambing hitam.
Aku, "Or maybe it's because of climate change?"
Grad, "Yeah, exactly! You need to think about that too. Everywhere floods happen young lady. It's not only in deforestated area but almost everywhere in this world."

Jadi,... begitulah kira-kira. Perubahan iklim adalah kambing yang sangat hitam yang bisa disalahkan sebagai penyebab semua kekacauan sistem alam ini. (Kacau? atau berubah? Berubah kan bukan berarti kacau?) Sebagai bagian dari alam, perubahan pun pasti dirasakan juga oleh manusia, tak terkecuali si alumni tadi. Untuk menarik garis antara perubahan iklim dan si alumni tentu bisa panjang. Ibarat climate change itu kupu-kupu di Brazil dan terdamparnya si alumni di WC Lempuyangan itu adalah tornado di Texas.  Eh, balik lagi ke butterfly effect deh. Tapi ini logikanya berbalik deh ya, kalau kepakan kupu-kupu itu kondisi awal yang kecil sedangkan perubahan iklim adalah sesuatu yang besar dan general. Jadi ngayal, padahal sudah dijelaskan (dari wikipedia si serba tahu) bahwa butterfly effect umumnya dipakai untuk cuaca. Eit, tapi perubahan iklim kan melibatkan cuaca juga ya.

Sebagai manusia yang tunduk pada hukum alam atau bahasa impor kerennya Sunnatullah, ya kita harus ngkikut kehendak alam. Jika perubahan iklim adalah tanda bahwa ibu alam ingin berubah, bisakah kita mencegahnya? Aku rasa tidak. Yang bisa kita lakukan ya menyesuaikan diri, adaptasi. Si alumni tadi juga mencoba beradaptasi. Jika hutan tak bisa lagi memberi rejeki, mungkin WC bisa. Sah-sah saja selama masih tidak mencuri. (Meskipun mencuri bisa dibilang adaptasi juga. :-P)

Tapi, kemudian ada mengganjal lagi. Bukankan manusia yang sering disalahkan atas perubahan iklim ini? Benarkah ini salah manusia? Benarkah manusia penyebabnya? Global warming lah (yang sering dipelesetkan sebagai 'Gombal maning'), deforestasi, polusi, dan banyak lagi.... Jika itu nyata juga, seolah-olah logika jadi dibolak-balik. Alam berubah karena manusia sedangkan manusia katanya tunduk pada hukum alam. Pusing kan ya.. Aku sendiri juga tak paham kenapa bisa kepikiran seperti itu. Kadang terpikir bahwasanya manusia sekarang itu sudah berlagak seperti 'Tuhan', serba mengatur. 'Act God' kalau kata Sara, seorang kawanku lagi di sini. Kalau menurut kamu gimana?

....
Dan ternyata sesuai dengan janjiku di awal tadi, aku akan berhenti jika aku mulai bosan menulis ini. Dan aku rasa aku mulai bosan sekarang. Bosan karena pusing, atau memang sudah jam setengah tujuh petang yang mengharuskanku pulang ke rumah dulu. Musim Gugur sudah mulai di sini dan dingin malam sudah menantiku di luar sana.

Tentang 5 frasa di awal, coba kamu pikir sendiri keterkaitannya. Hehehe...

Sampai ketemu lagi!



Portland (09/15/2014)